Ya! Mereka adalah Sahabatku.
Cerita dari
setiap episode kehidupan, selalu memberikan suasana dan keadaan yang
berbeda. Aku bertemu banyak orang yang
memiliki beragam kepribadian. Awalnya asing, tapi setelah berjalannya waktu,
kami menjadi dekat sehingga bisa dikatakan sahabat. Orang-orang disekitarku
terkadang sudah menilai di awal tentangku.
Aku terlihat dingin dan ketus, namun setelah mereka mulai mengajakku
bicara, suasana mengikuti pembicaraan kami yang penuh dengan cerita lucu dan
keisengan.
Aku bertemu
dengan mereka, mereka yang ku kenal di bangku SMP. Lucu memng ketika itu musim
yang namanya “genk”, tapi aku menganggapnya persahabatan kami itu bukan genk
tapi hanya sekumpulan anak remaja yang mencari kesenangan saat berkumpul
bersama. Aku dengan mereka memiliki banyak perbedaan sifat dan karakter,
tentunya yang namanya sahabat itu pasti memiliki sifat egois. Lika-liku perjalanan
persahabatanku dengan mereka cukup mengundang simpati dari teman-teman yang
lain. Yah, karena kami terlalu aktif di organisasi sehingga hampir semua guru
pun tahu. Perjalanan persahabatan aku dengan mereka masih tetap berlanjut
hingga sebagian sudah ada yang memiliki pasangan hidup. Cerita dari episode
kehidupan ini, aku mengambi banyak pelajaran. “Nyatanya tidak semua teman bisa
kau anggap sebagai sahabat, yang mau saling berbagi suka dan duka, berbagi
ilmu, saling menasehati juga menghargai.
Aku bertemu
dengan mereka, mereka yang ku kenal di bangku SMA. Sulit rasanya diawal masuk
SMA, jauh dari orang tua, kembali mengenal orang-orang asing yang tidak tahu
dari mana dan bagaimana sifatnya. Seiring berjalannya waktu, kesulitan itu
berubah menjadi kebahagiaan, ketika aku bertemu dengan mereka yang mau menjadi
sahabatku. Perbedaan karakter tentu ada, bahkan banyak, ada yang egois,
pendiem, cerewet, plin plan, tegas, dan periang. Semua aku temukan pada mereka.
Perbedaan itu akhirnya mempertemukanku dengan mereka dan menyatukannya dalam
persahabatan yang selalu terjaga hingga saat ini.
Aku bertemu
dengan mereka, mereka yang ku kenal di bangku perkuliahan. Pertemuan yang tak
diduga. Persamaan nasib namun perbedaan karakter yang cukup mencolok, bukan hanya
itu bahkan tempat asal pun berbeda-beda. Tetapi hal itu bukan menjadi halangan untuk aku dan
mereka bisa bersahabat. Aku bertemu dengan mereka di tingkat awal masuk kuliah.
Banyak cerita yang dibicarakan, banyak hal yang aku rasa”itu serasa senasib
denganku” . Perkuliahan berakhir, saat itu aku dengan mereka mengambil jalan
masing-masing dan tentunya kembali ke
kampung halaman masing-masing.
Sungguh sayang
sekali, diumur yang terus bertambah dan berkurang, pertemuan dengan sahabat
mulai terkontrol oleh segalanya. Kesibukan satu sama lain, membuat waktu
pertemuan harus menjadwalkan ulang. Waktu yang terus berjalan sedikit demi
sedikit mengubah keadaan, keadaan yang membuat pertemuanku dengan mereka hanya
bisa terjadi beberpa bulan sekali atau bahkan beberapa tahun sekali. Meskipun pada
kenyataannya, peran media sosial yang membantu pershabatanku dengan mereka
selalu terjalin dan tak pernah putus.
Ya, mereka lah
sahabatku! Mereka yang mengiasi dari setiap cerita pada episode kehidupanku. Mulai
dari pertengkaran, perselisihan, taangis, tawa dan canda semuanya beriringan
membuat kehidupanku menjadi lebih berarti dan bermakna.