Kamis, 07 Juni 2018

Ya! Mereka adalah Sahabatku.


Ya! Mereka  adalah Sahabatku.

Cerita dari setiap episode kehidupan, selalu memberikan suasana dan keadaan yang berbeda.  Aku bertemu banyak orang yang memiliki beragam kepribadian. Awalnya asing, tapi setelah berjalannya waktu, kami menjadi dekat sehingga bisa dikatakan sahabat. Orang-orang disekitarku terkadang sudah menilai di awal tentangku.  Aku terlihat dingin dan ketus, namun setelah mereka mulai mengajakku bicara, suasana mengikuti pembicaraan kami yang penuh dengan cerita lucu dan keisengan.

Aku bertemu dengan mereka, mereka yang ku kenal di bangku SMP. Lucu memng ketika itu musim yang namanya “genk”, tapi aku menganggapnya persahabatan kami itu bukan genk tapi hanya sekumpulan anak remaja yang mencari kesenangan saat berkumpul bersama. Aku dengan mereka memiliki banyak perbedaan sifat dan karakter, tentunya yang namanya sahabat itu pasti memiliki sifat egois. Lika-liku perjalanan persahabatanku dengan mereka cukup mengundang simpati dari teman-teman yang lain. Yah, karena kami terlalu aktif di organisasi sehingga hampir semua guru pun tahu. Perjalanan persahabatan aku dengan mereka masih tetap berlanjut hingga sebagian sudah ada yang memiliki pasangan hidup. Cerita dari episode kehidupan ini, aku mengambi banyak pelajaran. “Nyatanya tidak semua teman bisa kau anggap sebagai sahabat, yang mau saling berbagi suka dan duka, berbagi ilmu, saling menasehati juga menghargai.
Aku bertemu dengan mereka, mereka yang ku kenal di bangku SMA. Sulit rasanya diawal masuk SMA, jauh dari orang tua, kembali mengenal orang-orang asing yang tidak tahu dari mana dan bagaimana sifatnya. Seiring berjalannya waktu, kesulitan itu berubah menjadi kebahagiaan, ketika aku bertemu dengan mereka yang mau menjadi sahabatku. Perbedaan karakter tentu ada, bahkan banyak, ada yang egois, pendiem, cerewet, plin plan, tegas, dan periang. Semua aku temukan pada mereka. Perbedaan itu akhirnya mempertemukanku dengan mereka dan menyatukannya dalam persahabatan yang selalu terjaga hingga saat ini.
Aku bertemu dengan mereka, mereka yang ku kenal di bangku perkuliahan. Pertemuan yang tak diduga. Persamaan nasib namun perbedaan karakter yang cukup mencolok, bukan hanya itu bahkan tempat asal pun berbeda-beda. Tetapi hal  itu bukan menjadi halangan untuk aku dan mereka bisa bersahabat. Aku bertemu dengan mereka di tingkat awal masuk kuliah. Banyak cerita yang dibicarakan, banyak hal yang aku rasa”itu serasa senasib denganku” . Perkuliahan berakhir, saat itu aku dengan mereka mengambil jalan masing-masing  dan tentunya kembali ke kampung halaman masing-masing.
Sungguh sayang sekali, diumur yang terus bertambah dan berkurang, pertemuan dengan sahabat mulai terkontrol oleh segalanya. Kesibukan satu sama lain, membuat waktu pertemuan harus menjadwalkan ulang. Waktu yang terus berjalan sedikit demi sedikit mengubah keadaan, keadaan yang membuat pertemuanku dengan mereka hanya bisa terjadi beberpa bulan sekali atau bahkan beberapa tahun sekali. Meskipun pada kenyataannya, peran media sosial yang membantu pershabatanku dengan mereka selalu terjalin dan tak pernah putus.
Ya, mereka lah sahabatku! Mereka yang mengiasi dari setiap cerita pada episode kehidupanku. Mulai dari pertengkaran, perselisihan, taangis, tawa dan canda semuanya beriringan membuat kehidupanku menjadi lebih berarti dan bermakna.


Rabu, 06 Juni 2018

Aku adalah Aku


Aku adalah seorang perempuan yang dilahirkan dari rahim ibuku pada waktu orang-orang sedang tertidur pulas, adapun orang-orang yang sedang beribadah di sepertiga malam. Ya, aku lahir tepat pukul 03.00 WIB.  Awalnya ibuku mengira aku akan lahir sebagai seorang laki-laki, tapi Alloh berkehendak lain dan namaku adalah Fajrina Dwiya. Semasa kecil, aku terbilang sangat tomboy bahkan main saja bisa sama laki-laki. Wajar saja ketika masa SD aku kelihatan garang dan cuek sama laki-laki. Tapi disisi ketomboyan ku pastilah ada sisi perempuanku yang ingin tampil cantik layaknya perempuan-perempuan yang lain. Apalagi kalau sudah melihat teman-teman perempuanku, kadang aku terheran melihatnya. Bagaimana mereka bisa berdandan begitu rapih? Masa SD ku berlalu dan beranjak remaja, remaja yang mulai mengenal dunia luar dalam arti pergaulan yang lebih luas lagi dari pergaulan anak SD pada zamannya.

Masa SMP ku yang indah, berangkat & pulang sekolah masih pakai angkot, belum punya yang namanya handphone (yah perkiraan baru kelas 2 SMP lah punya handphone dan itu pun masih telolet). Masa yang ga pernah mengenal FB, Instagram, WhatsApp, LINE, Kakaotalk atau bahkan media sosial lainnya. Zamannya aku, lagi bomming nonton acara musik, main sama temen yang se-geng, di labrak sama kakak tingkat dan untungnya aku ga pernah ngalamin karena ga pernah bikin ribut sama kakak tingkat. Masa selama 3 tahun di bangku SMP, mengenalkanku pada sahabat yang sampai saat ini masih tetap kompak dan masih terjalin dekat layaknya sudah seperti keluarga. Masa remajaku berlanjut di bangku SMA, kenyataannya aku pergi merantau ketika duduk di bangku SMA. Sebenarnya keputusan untuk merantau itu adalah 50:50, karena apa? Itu adalah keputusan dari orang tuaku dan aku. Banyak cerita, banyak pengalaman, banyak berurai air mata. Bagaimana tidak? Ini kali pertamaku merantau ke kota, tapi ya sudahlah aku menjalaninya tanpa ada paksaan. Cerita masa putih abu, mengenal teman sekelas yang berbeda daerah dan berasal dari berbagai sekolah ternama sebelumnya. Masa putih abu yang sangat cepat berlalu, sampai menyimpan banyak memori bersama teman-teman yang banyak menginspirasi ku. Pada intinya aku menemukan orang-orang baru yang membantu ku dan mengubah pandanganku untuk menjalani masa-masa di depan nanti.

Waktu terus saja berlalu dan tak pernah berhenti sedetik pun. Begitu pun dengan Masa Putih Abu ku yang begitu cepat berlalu. Aku memasuki jenjang perkuliahan. Kuliah? Mendengar kata kuliah rasanya aku sudah mulai merasa bukan anak-anak lagi. Jadi suka flashback ingin kembali ke masa-masa umur 5 tahun, masa TK atau SD. Kuliah kembali merantau, bahkan sekarang lebih jauh. Ya, Bandung yang ku pilih sebagai kota untuk ku habiskan di masa perkuliahan ku. Masa kuliah yang ku habiskan tentunya dengan belajar, organisasi, main untuk sekedar hiburan dan mengenal orang-orang baru dari berbagai daerah di Jawa Barat juga dari luar Jawa Barat. Saat masa kuliah, zaman udah serba canggih. Handphone udah bisa langsung layar sentuh, FB udah gak terlalu musim sih, Instagram lagi musim-musimnya, Line sama WhatsApp apalagi. Tapi itulah zaman yang terus berkembang dari masa ke masa.

Untuk Diriku dimasa Depan