Katanya sahabat itu adalah
tempat pulang kedua setelah orang tua. Aku setuju akan hal itu karena aku
memiliki mereka, sahabat yang sudah seperti keluarga kedua bagiku. Pertemanan
yang sudah terjalin lama, membuat aku dan mereka layaknya adik dan kakak. Peran
itu akan berubah-ubah setiap ada permasalahan yang dihadapi diantara aku dan
mereka. Jelas nyatanya perbedaan sifat dan karakter diantara aku dan mereka
cukup terlihat. Ada yang egosi, ada yang mengalah, ada yang acuh tak acuh.
Namun dari perbedaan semua itu mempersatukan dan melengkapi persahabatan aku
dan mereka.
Rasanya akan lebih jelas kalau aku perkenalkan mereka satu
persatu. Pertama, aku kenalkan sahabatku yang sosoknya penuh keibuan dan dewasa
dalam bicara. Panggil saja dia Silva, dia memang yang tertua diantara yang lain
dan dialah yang selalu menjadi penengah diantara yang lain ketika terjadi
perdebatan atau pertengkaran. Aku pun selalu bercerita banyak hal dengannya dan
tak membuatku ragu untuk berdiskusi banyak hal pula. Aku belajar banyak
darinya, salah satunya ketika aku merasakan sebuah kehilangan. Dia yang pertama
kali memberiku nasihat dan meyakinkanku untuk tidak jauh dari Sang Maha
Pencipta.
Kedua, aku kenalkan sahabtku
yang biasa ku panggil “Ceu”. Namanya Amira, dia orangnya kreatif karena segala
hal bisa dia jadikan hal-hal berguna. Tapi terkadang rasa egoisnya muncul tak
di duga, namun setelah lama mengenalnya aku semakin paham akan dirinya. Dia
selalu fasih dalam bicara, tak heran kalau dia pernah jadi penyiar radio. Kata
perkatanya selalu membuat orang menjadi tertarik untuk membahasnya.
Ketiga, kuperkenalkan sahabatku yang bisa dibilang acuh tak
acuh sih. Namanya Silvi, orangnya kadang cuek, tak pernah mempermasalahkan
terlalu dalam apa orang lain pikirkan itu seperti masalah besar. Dia itu “eazy going” aja dalam hidupnya. “Setiap
masalah gak perlu dipikirkan terlalu dalam, nanti juga pasti ada jalan
keluarnya.” Mungkin itu yang bisa aku tangkap dari dirinya. Dan jangan salah,
dia orangnya pintar dan selalu juara kelas.
Keempat, aku kenalkan sahabatku yang selalu bikin ricuh bikin
suasana menjadi upnormal. Panggil saja dia Shyla, dia sahabat yang selalu ceria
dalam keadaan apapun dihadapan setiap orang. Tak pernah menampakan kesedihan
yang dialaminya di depan oarng-orang hanya ia pendam sendiri dan menangis
ketika malam tiba. Namun dia yang selalu bikin suasana menjadi ricuh dan
menyenangkan ketika memang kami sedang berkumpul.
Kelima, aku kenalkan sahabatku yang bisa dibilang agak
pemalu, namanya Jani. Jani kadang-kadang orangnya pemalu, kadang-kadang eror,
kadang-kadang lagi telat. Tapi di balik itu semua, dia selalu ingat dan selalu
berkabar ketika dia jauh dari kami dan memiliki teman-teman barunya.
Keenam, ku perkenalkan sahabatku yang
paling lincah, paling nyetrik dan paling banyak di taksir sama cowo. Namanya
Amalia, tak heran juga kenapa dia paling di taksir sama cowo. Dia memang
cantik, tapi karena aku sahabat yang sudah kenal dekat dengannya jadi aku pun
tahu dia orangnya seperti apa. Amalia yang cantik tapi terkadang bertingkah
konyol di depan kami. Namun, tak banyak pula kakak tingkat cewe, waktu kami
sekolah dulu banyak yang mencarinya karena cowo-cowo yang mereka taksir
berpaling dan lebih tertarik dengan Amalia. Itulah Amalia.