Bertemu
Dia yang tepat, Bahagiakan Orang Tua, Rezeki dan Karier
Bertemu
dengan dia yang tepat dan di waktu yang tepat. Satu do’a yang selalu
terpanjat di setiap malam tanpa henti. Namun sampai saat ini, semuanya masih
menjadi rahasia-Nya. Terkadang ingin mengeluh, tapi rasanya kurang tepat jika
harus terus mengeluh tanpa saya syukuri apa yang sedang saya jalani saat ini. Masih
bisa bertemu orang-orang yang satu frekuensi, masih bisa bertemu teman di saat
bilang hayu, masih bisa liburan sama temen, masih bisa nongkrong pas weekend sama teman-teman yang se-frekuensi, masih bisa ngajak hayu dan
ngiyain hayu ketika temen WA “hayu kuy!”. Hal apa lagi yang tanpa kamu sadari
dari hal-hal kecil itu telah membuatmu merasa nyaman dan tidak merasa sendiri. Mungkin
Alloh punya rencana lain, setelah apa yang terjadi di tahun ini yang begitu
semerawut. Bukan tanpa sebab bukan tanpa alasan, bahkan meskipun ini bukan hal
yang saya pilih. Tapi pilih-Nya selalu menjadi yang terbaik. Bertemu dengan dia
yang tepat, entah itu siapa dan dimana masih saja salah satu hal yang selalu
terbersit dalam benak ini “Kapan?” Namun, entah siapapun kamu, dan dimana pun
kamu “orang yang tepat yang akan Alloh pertemukan dengan saya entah di akhir
tahun ini atau di awal tahun depan. Semoga kita sudah menjadi versi yang lebih
baik dari sebelumnya, kita bisa setara dalam segala hal dengan menyatukan satu
visi dan misi yang sama dalam pemikiran sebuah hubungan.
Orangtua
bahagia, salah satu wish saya diakhir tahun ini. Namun entah
saya akan berhasil atau tidak, tapi bertemu dengan orang yang tepat menjadi
alasan yang utama untuk bisa membahagiakan orang tua saya. Sebetulnya sederhana,
orang tua hanya ingin segera melihat anak peremuan bungsunya untuk segera
menemukan tambatan hatinya dan segera menikah. Namun kadang orang tua hanya
cukup untuk meminta segera, tanpa pernah tahu beban yang di tanggung oleh anak
peremuannya ini. Memikirkan dengan matang perihal pernikahan bukan hal yang
mudah, apalagi setelah melihat beberapa kasus ataupun pembelajaran tentang
pernikahan yang dialami oleh rekan kerja, teman, ataupun berkaca dari pernikahan
orang tua saya sendiri. Seiring dengan berjalannya waktu, memang perbedaan
pendapat dan pandangan sering kali membuat saya dengan ibu saya terutama
berselih paham hingga kami jarang bertegur sapa. Saya memilih diam, karena
tidak ingin ada kata-kata yang nantinya bisa menyakiti atau bahkan ada
kata-kata yang tidak bisa diterima oleh ibu saya. Meskipun kata-kata yang
dikeluarkan oleh ibu saya baik itu buruknya terhadap saya, saya memaklumi itu. Biarlah,
mungkin itu bentuk protes karena saya tidak menuruti satu permintaan yang menurut
saya berbanding terbalik dengan akal dan logika saya terutama yang bertentangan
dengan agama. Namun di balik itu semua, saya hanya ingin orang tua saya
bahagia, terlepas dari satu keinginan mereka untuk saya segera menikah.
Perihal Rezeki dan Karier, diakhir tahun ini pencapaian karier masih dalam
tahap yang sama. Menjalani apa yang harus dikerjakan, apa yang sudah menjadi pilihan.
Perihal rezeki akan mengikuti alur dari apa yang telah saya upayakan. Saya pikir,
saya merasa upaya belum maksimal tapi saya hanya bisa memohon do’a pada Alloh jika
semuanya telah Engkau atur. Tak lepas dari do’a selalu saya panjatkan, begitu
juga ada kebiasaan yang selalu saya lakukan sekarang yang saya rasa ini adalah
perubahan ke arah lebih baik. Tak perlu membandingkan sebuah karier setiap
orang ataupun dengan pencapaiannya, karena setiap orang memiliki jalan dan waktunya
masing-masing. Percayalah, semuanya sudah Alloh atur. Saya hanya memohon do’a
untuk selau dilancarkan dan dimudahkan dalam rezeki dan karier dan juga dalam
segala hal nya.
Aminnn
BalasHapus