Senin, 19 November 2018

Cerita Dari Episode Kehidupan Part I


Cerita Dari Episode Kehidupan Part I

Hai masa lalu..
Apa kabar? Setelah sekian lama tak mendengar kabarmu, beberapa kabar mengejutkan datang darimu secara beruntun. Selang setahun berpisah, aku tak pernah ingin tahu kabarmu. Bukannya aku memutuskan silatturahmi denganmu, tapi karena ini yang terbaik untuk kehidupan kita masing-masing. Setahun berlalu, aku melihat postingan fb mu dengan seorang perempuan. Aku tersadar saat itu, selama ini aku diam bukan tidak ingin mencari tahu tentang sebuah alasan yang masih klise bagiku. Namun perlahan tanpa kamu jelaskan alasan itu, jawaban terus bermunculan. Ya, seorang perempuan lainlah jawaban yang mendasari segalanya. Namun itu hanya satu dari sekian dari banyak alasan yang aku bisa simpulkan. Saat itu, aku merasa menyesal mengenalmu tetapi seketika aku berpikir kembali dan aku ingin berterima kasih padamu untuk semuanya karena sampai detik ini aku menjadi seseorang yang lebih bisa mengerti dengan diriku sendiri. Selang beberapa bulan setelah aku tahu kamu menemukan tambatan hati yang baru, aku hanya bisa tersenyum dalam hati meskipun air mata ini masih bisa menetes sesaat.

Hai masa lalu..
Waktu rasanya cepat berlalu ketika aku mulai menerima keadaan. Kabar demi kabar yang mengejutkan terus menghampiriku. Ya, tak lama berselang, aku mendengar kabar bahagia darimu tentang pertunanganmu. Kabar yang mengejutkan memang awalnya. Namun dari saat itu aku mulai menyadari segalanya tentang kehidupan ini dan saat itulah aku mulai tak ingin menangis lagi oleh alasan yang sama. Aku semakin bisa menerima segala kemungkinan terburuk lainnya. Ya, aku menjadi kuat karena semua hal yang telah aku lewati itu tidaklah mudah.  

Hai masa lalu..
      Kabar bahagiamu sudah sampai ke telingaku, Kabar tentang pernikahanmu. Aku tak sempat mengucapkan selamat padamu karena pada awalnya aku juga tak tahu tanggal pernikahanmu. Aku tersenyum ketika melihat dari status sosial media milik keluargamu, pelataran ijab kabul, kau bersanding dengan perempuan pilihanmu. Seketika aku tersenyum dan aku sudah tidak menangis lagi untukmu. Sebuah pernikahan yang dulu kau tawarkan padaku, kini kau telah wujudkan dengannya. Aku ikut bahagia.

Hai masa lalu..
          Terima kasih untuk kehadiranmu saat itu. Tanpa kehadiranmun saat itu dan dengan meninggakanku saat itu pula,  aku tak akan menjadi sesorang yang kuat seperti sekarang. Terlebih aku sudah bisa menerima segalanya, memilih untuk tidak memikirkan hal-hal yang merugikanku. Jatuh bangun yang ku hadapi saat itu adalah proses pendewasaanku. Banyak hal yang telah aku lewati dari saat kamu memilih untuk pergi hingga akhirnya kita menemukan jalan hidup masing-masing. Berbahagialah dengannya, jangan pernah menyakitinya, karena dia sekarang adalah istrimu. Buat dia bahagia dengan caramu..

 Hai masa lalu..
          Suatu saat mungkin aku akan teringat kembali kenangan kita, tapi semua kenangan itu akan aku simpan saja dan tak akan aku buka kembali. Aku pamit dan terimakasih untuk masa laluku. J  


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Untuk Diriku dimasa Depan