Rabu, 30 Juni 2021

Cerita Episode Kehidupan : "Jadi Apa Jawabanmu?"

 

Kapan Nikah?

Pertanyaan yang relative sering di dengar oleh mereka yang sudah berusia rata-rata diatas 24 tahun? Setuju?

Jika dari kalian merasa hal itu lumrah ditanyakan karena melihat perihal usia yang semakin berumur, jadi tidak masalah. Memang tidak masalah untuk di tanyakan, yang menjadi masalah hanya pertanyaan mereka melebihi dari topik utama.

“Jadi kapan? “sama orang mana?” kerjanya dimana?”

Memasuki awal usia 24 tahun, mendengar pertanyaan itu serasa sedang mengalami sidang skripsi kembali, tapi bedanya saat itu adalah skripsi kehidupan. Namun pada kenyataannya itu hanyalah sebuah pertanyaan yang wajar.

Menjalani kehidupan di usia 24 tahun, bagiku tidaklah mudah, kehidupan terberat yang telah dialami saat itu berusia 23 tahun. Mungkin itulah fase kehidupan yang selalu berbeda setiap orangnya. Ketika orang di usia 23 tahun sedang mempersiapkan pernikahan atau masih sedang bergelut dengan skripsi atau bahkan sedang sibuk-sibuknya mengasuh anak pertama. Hal itu berbeda denganku yang memasuk fase kehidupan yang membuatku harus merangkak dari nol lagi untuk menemukan diriku sendiri.

Ketika sebagian orang bertanya, “Kamu masih sendiri aja?” dan aku hanya bisa tersenyum, bukan tidak ingin memulai suatu hubungan, hanya saja saat itu bagiku adalah waktu sesungguhnya untuk mengenal dan memahami diri sendiri. Menepikan sebuah rasa dan mulai berteman dengan diri sendiri.

Terkadang aku berpikir, orang lain begitu mudah untuk berteman dengan diri sendiri sehingga begitu mudah mengatasi masalahnya sendiri. Ternyata pikiranku salah, tidak semua orang bisa memahami dirinya sendiri sekalipun mereka sudah berusia diatas 20 tahun, sudah menikah, sudah memiliki anak, atau bahkan sudah memiliki pekerjaan tetap. Setiap orang punya fase dimana mereka bisa memahami diri mereka melalui sebuah permasalahan. Namun permasalahan itu kapan datang dan tentang apa, tentunya akan jadi cerita yang tida bisa ditebak dan akan berbeda.

Jadi jangan hanya bertanya “Kapan Nikah?” tanpa kalian tau proses kehidupan seseorang itu untuk menjalani setiap fase kehidupan. Bagiku, proses pendewasaan sebelum menikah itu penting, karena apa? Mental yang paling utama. Selain itu, tentunya kalo sudah takdirnya kamu akan menikah, maka Tuhan akan mudahkan segelanya.

Lalu apa yang harus kamu lakukan saat ini?

Tetap menjalaninya dengan senyaman mungkin, dengarkan mereka bicara dan bertanya, jika itu hanya akan merugikanmu, maka biarkan suara-suara itu hanya lewat ditelingamu. Dengarkan apa kata hatimu, berteman dengan dirimu, maka kamu akan paham kenapa kamu bisa melalui proses yang menakjubkan dalam hidup yang belum tentu orang-orang di sekelilingmu bisa memiliki cerita yang sama tentang proses pendewasaanmu.

 

Sabtu, 20 Maret 2021

Rentang Waktu

 Tepatnya sudah 4 tahun berlalu,

Segalanya berlalu begitu saja, aku mengistirahatkan sebuah rasa dalam waktu yang cukup lama. Bahkan ketika aku sudah berhasil bangkit, aku hampir lupa untuk memulai suatu hubungan yang baru.

Jadi, kamu selama 4 tahun ini ngapain?

Ah iya, banyak yang aku lakukan selama rentang waktu itu. Bukan hanya tentang menemukan diriku yang baru, bertemu dengan orang-orang baru, pekerjaan yang beragam, dan tentunya lingkungan baru yang mengubahku menjadi sekarang. Namun teruntuk pasangan? Bukan belum terpikirkan, hanya saja aku belum terbiasa untuk memulai semuanya dari awal lagi.

Membuka cerita lama, setelah hubungan itu berakhir begitu saja. Aku mulai menepikan diri dari lingkungan, menyendiri lebih tepatnya. Merenungkan segalanya, sampai sempat menyelahkan diri sendiri atas apa yang terjadi. Itulah salah satu yang membuat aku sempat mengalami down yang cukup parah. Namun semuanya itu hanya cerita lalu yang bahkan ketika aku mengingatnya sekarang, semua itu hanya membuatku tersenyum dan ingin tertawa dengan diriku yang dulu.

Menemukan satu titik dimana aku harus benar-benar bangkit dan melewati segalanya dimulai dari “LOVE MY SELF”.  Mencintai diri sendiri bukan berarti egois terhadap orang lain, melainkan kita hanya harus focus pada diri kita pada saat-saat tertentu yang tidak menyebabkan diri kita terjatuh dalam pikiran yang merugikan kita yang pada akhirnya hanya menyalahkan diri sendiri. Mulai saat itu, aku mulai menerapkan itu dalam diriku, berawal untuk mencintai diri sendiri untuk tidak menyalahkan diri sendiri atas apa yang terjadi, ataupun kesalahan sekecil apapun itu bahkan untuk tidak lagi membandingkan diri sendiri dengan orang lain. Cukup sampai disana.

Ketika perlahan mulai bangkit, orang-orang datang berlalu lalang. Ada yang datang, singgah sementara lalu pergi begitu saja. Begitulah cerita singkatnya. Sampai aku mulai berpikir dalam rentang waktu itu, mungkin aku beristirahat terlalu lama. Namun terkadang aku lupa untuk memulai semuanya dari awal, mungkin karena sekarang aku sudah paham akan situasinya. Tidak ingin terlalu gegabah dalam mengambil segala keputusan untuk menerima yang datang, karena bisa saja itu hanya singgah sementara.

Dan kembali lagi, aku hampir lupa untuk memulai karena terlalu lama mengistirahatkan sebuah rasa, meskipun rasa itu selalu muncul hanya di awal saja setelah itu berlalu begitu saja tanpa ada kepastian dari rasa itu.

Untuk Diriku dimasa Depan