Tiga
bulan terakhir di tahun 2023, bagaimana rasanya?
Entahlah,
segalanya tak bisa untuk diungkapkan. Hanya saja, cukup berdamai dengan diri
sendiri.
Di bulan September yang seharusnya ceria, tapi
justru awal dari semuanya memang harus ada ketegasan. Masih dengan orang yang
sama, orang yang saya kenal di akhir tahun kemarin. Orang yang tiba-tiba datang
dengan penuh hangat, dan menghilang begitu saja hingga akhirnya datang kembali
dengan penuh teka-teki dan masih dengan sikap sama tanpa ada ketegasan. Di bulan
ini, saya pikir akan ada perubahan tentang perkenalan ini. Ternyata justru saat
itu membuat saya berpikir ulang dan semakin yakin bahwa ini tidak bisa
dilanjutkan karena untuk rasa saling menghargai saja, saya pikir benar-benar
nol. Ini tidak ada frekuensi yang sama. Namun ego dan perasaaan masih berperang
untuk saling membenarkan satu sama lain.
Satu bulan September yang penuh kebimbangan
dan kebingungan, yang membuat saya harus mundur, maju dan stuck di tengah
jalan. Hingga pada akhirnya, tiba disuatu titik yang membuat saya sadar untuk
lebih tegas dengan diri saya dan perasaan saya. Ketika saya rasa ini akhir yang
tepat untuk saya pamit, dan dari akhir satu pesan yang saya kirimkan akhirnya
tidak ada balasan. Dan itu sudah menjadi jawaban dari segala jawaban yang selau
saya pertanyakan. Dari awal sampai akhir pun, dia tetap menjadi orang yang
sama. Jadi benar kata orang, ketika seseorang datang ke hidup kita, bisa jadi
dia memang ujian bagi kita berupa pembelajaran atau bisa jadi seseorang itu memang
Alloh takdirkan untuk kita. Dan jawabanya, memang seseorang itu hadir hanya
untuk memberikan pembelajaran hidup yang sangat berarti bagi saya.
Di bulan Oktober,
hari-hari yang masih dipenuhi dengan kebimbangan dan pertanyaan-pertanyaan
dengan jawaban yang masih belum bisa diterima oleh perasaan namun selau
ditegaskan oleh logika. “Oh jadi ini udah selesai?” sebuah pertanyaan yang
seolah seperti pernyataan untuk diri sendiri. Well, tapi saya bersyukur dengan berjalannya waktu. Alloh
pertemukan saya dan Alloh hadirkan teman-teman yang selalu memberikan support yang luar biasa untuk saya
keluar dari zona kebimbangan dan ketidaknyamanan perasaan saya. Saya selalu
bertanya pada diri saya, “Kenapa?” Kenapa
baru saja saya membuka perasaan saya untuk orang baru setelah sekian lama saya
sedikit sulit untuk membuka perasaan untuk orang baru, baru kali ini saya bisa.
Tapi justru itu pada orang yang salah. Terkadang pertanyaan itu masih
muncul dibenak saya ketika dibulan Oktober.
Oktober dengan penuh canda dan tawa, sedih
dan duka. Tak lupa perselisihan antara saya dan ibu saya, masih dengan hal yang
sama mendebatkan perbedaan pendapat dan pandangan. Mengkhawatirkan saya yang
sampai saat ini masih sendiri, tanpa pernah bertanya apakah saya selama ini
merasa bahagia atau bagaimana keadaan mental saya saat ini? Terkadang orang tua
memang tidak selalu dan akan mengerti dengan perasaan anaknya, bahkan mungkin
seorang anak akan lebih nyaman bercerita dengan teman atau mungkin ke keluarga
yang bukan keluarga inti. Itulah akhir cerita dibulan Oktober, dengan
perselisihan yang sama, dan akhir yang sebenarnya diantara saya dan dia. “Tidak bisa dilanjutkan”. Namun yang
membuat saya menyadari bahwa memang ini yang terbaik adalah saya menganggap
bahwa saya baru saja bertemu dengan seseorang yang sepertinya belum bisa
mempertanggung jawabkan atas apa yang dia ucapkan, dan belum memiliki prinsip
begitu pun komitmen dalam hidupnya. Dari situlah saya baru paham, ternyata saya
membutuhkan seseorang yang bisa bertanggungjawab atas apa yang ia ucapkan,
memiliki prinsip yang tegas dalam hidupnya dan bisa berkomitmen, terutama
dengan dirinya sendiri.
Di
bulan November, memulai langkah demi
langkah untuk kembali ke awal. Mengobati sedikit luka kecewa. Mulai berpikir
untuk tidak terlalu lama untuk berada pada zona sedih dan kecewa, karena pada
akhirnya hanya diri sendiri yang tau apa yang sebenarnya yang diinginkan oleh
diri kita. Menikmati hari demi hari, menikmati rasa sedih, bahagia dan
penerimaan secara bersamaan. Mencari celah untuk tidak memikirkan hal-hal yang
merugikan pikiran dan perasaan. Mengakhiri rasa kecewa dan rasa nyaman. Meskipun
harus berakhir di akhir tahun yang kupikir akan berakhir indah, namun pada
kenyatannya harus kembali pada titik awal yaitu penerimaan dengan ikhlas atas
semua yang sudah terjadi dan terlewati.
November
rain, itulah yang terjadi dalam kehidupan saya. Meksipun
nyatanya berat, tapi saya percaya bahwa saya bisa melewatinya tanpa akan
terpikirkan lagi oleh hal-hal yang membuat saya kecewa dibulan-bulan
sebelumnya. Pada akhirnya di satu titik menuju akhir November, saya mulai
merasa bahwa dengan penerimaan rasa ikhlas itu tidak berat. Saya bisa dengan
santainya menjalai kehidupan saya, melakukan apa yang ingin saya lakukan, membeli
apa yang ingin saya beli dan lebih sering menghabiskan waktu sendiri di tempat
makan dengan alasan untuk lebih bisa deeptalk
sama diri sendiri. Diakhir November, saya hanya ingin mengucapkan pada diri
saya “Terimakasih untuk selalu berjuang
bersama, selalu belajar dan bertahan untuk tidak sama-sama egois dalam semua
keadaan. Meskipun terkadang ego dan logika masih sering bertengkar, tapi
diantara mereka selalu ada yang menginginkan terbaik bagi diri saya.” And the
last, I must say thank you for you, sudah hadir di waktu yang singkat, meskipun
bukan hadir di waktu yang tepat. Terimakasih sudah mau mengenal saya, melihat
segala aktifitas saya dari media sosial tanpa sering bertanya tentang saya. Saya
harap, kamu bisa melakukannya lebih baik ketika kamu bertemu dengan seseorang
yang menurut kamu tepat. Mulailah belajar untuk membuka perasaanmu dan menerima
tentang masa lalu yang tak mungkin untuk bisa kamu ulangi. Bahagiamu, kamu yang
ciptakan. Terimakasih.