Minggu, 22 Desember 2019

Sahabat Itu Layaknya Seperti Keluarga

      Katanya sahabat itu adalah tempat pulang kedua setelah orang tua. Aku setuju akan hal itu karena aku memiliki mereka, sahabat yang sudah seperti keluarga kedua bagiku. Pertemanan yang sudah terjalin lama, membuat aku dan mereka layaknya adik dan kakak. Peran itu akan berubah-ubah setiap ada permasalahan yang dihadapi diantara aku dan mereka. Jelas nyatanya perbedaan sifat dan karakter diantara aku dan mereka cukup terlihat. Ada yang egosi, ada yang mengalah, ada yang acuh tak acuh. Namun dari perbedaan semua itu mempersatukan dan melengkapi persahabatan aku dan mereka.
     Rasanya akan lebih jelas kalau aku perkenalkan mereka satu persatu. Pertama, aku kenalkan sahabatku yang sosoknya penuh keibuan dan dewasa dalam bicara. Panggil saja dia Silva, dia memang yang tertua diantara yang lain dan dialah yang selalu menjadi penengah diantara yang lain ketika terjadi perdebatan atau pertengkaran. Aku pun selalu bercerita banyak hal dengannya dan tak membuatku ragu untuk berdiskusi banyak hal pula. Aku belajar banyak darinya, salah satunya ketika aku merasakan sebuah kehilangan. Dia yang pertama kali memberiku nasihat dan meyakinkanku untuk tidak jauh dari Sang Maha Pencipta.
Kedua, aku kenalkan sahabtku yang biasa ku panggil “Ceu”. Namanya Amira, dia orangnya kreatif karena segala hal bisa dia jadikan hal-hal berguna. Tapi terkadang rasa egoisnya muncul tak di duga, namun setelah lama mengenalnya aku semakin paham akan dirinya. Dia selalu fasih dalam bicara, tak heran kalau dia pernah jadi penyiar radio. Kata perkatanya selalu membuat orang menjadi tertarik untuk membahasnya.
       Ketiga, kuperkenalkan sahabatku yang bisa dibilang acuh tak acuh sih. Namanya Silvi, orangnya kadang cuek, tak pernah mempermasalahkan terlalu dalam apa orang lain pikirkan itu seperti masalah besar. Dia itu “eazy going” aja dalam hidupnya. “Setiap masalah gak perlu dipikirkan terlalu dalam, nanti juga pasti ada jalan keluarnya.” Mungkin itu yang bisa aku tangkap dari dirinya. Dan jangan salah, dia orangnya pintar dan selalu juara kelas.
        Keempat, aku kenalkan sahabatku yang selalu bikin ricuh bikin suasana menjadi upnormal. Panggil saja dia Shyla, dia sahabat yang selalu ceria dalam keadaan apapun dihadapan setiap orang. Tak pernah menampakan kesedihan yang dialaminya di depan oarng-orang hanya ia pendam sendiri dan menangis ketika malam tiba. Namun dia yang selalu bikin suasana menjadi ricuh dan menyenangkan ketika memang kami sedang berkumpul.
      Kelima, aku kenalkan sahabatku yang bisa dibilang agak pemalu, namanya Jani. Jani kadang-kadang orangnya pemalu, kadang-kadang eror, kadang-kadang lagi telat. Tapi di balik itu semua, dia selalu ingat dan selalu berkabar ketika dia jauh dari kami dan memiliki teman-teman barunya.
       Keenam, ku perkenalkan sahabatku yang paling lincah, paling nyetrik dan paling banyak di taksir sama cowo. Namanya Amalia, tak heran juga kenapa dia paling di taksir sama cowo. Dia memang cantik, tapi karena aku sahabat yang sudah kenal dekat dengannya jadi aku pun tahu dia orangnya seperti apa. Amalia yang cantik tapi terkadang bertingkah konyol di depan kami. Namun, tak banyak pula kakak tingkat cewe, waktu kami sekolah dulu banyak yang mencarinya karena cowo-cowo yang mereka taksir berpaling dan lebih tertarik dengan Amalia. Itulah Amalia. 

Senin, 18 November 2019

TENTANG SEBUAH PERJALANAN (Kutemukan Mereka dalam Perjalananku)


Sebuah proses atau metamorfosis yang bisa dirasakan oleh setiap individu untuk menjadi pribadi yang lebik baik dari sebelumnya. Perjalanan dalam kehidupannya membuat seseorang bisa merubah pandangan hidupnya terhadap segala hal. Tak terkecuali memaknai arti dari memiliki dan arti  dari kehilangan.

  Mekanai sebuah kehilangan, Mungkin setiap orang pernah merasakan yang namanya kehilangan, namun yang membuat kita merasa bahwa itu adalah sebuah kehilangan? Merasakan rasa kehilangan itu pasti sangat menyakitkan atau bahkan mungkin menyedihkan. Awal dari kehilangan membuat kita seakan tak percaya dan serasa tak memiliki arah jalan kehidupan. Kehilangan membuat kita kadang tak menjadi focus dengan apa yang sedang kita kerjakan. Namun tentunya setiap orang yang pernah merasakan kehilangan akan tahu yang namanya Mengikhlaskan”, akan tahu caranya menjadi orang yang sabar. Cukup hanya diam dan tak banyak mengutarakan kata untuk mengungkapkan rasa kehilangan yang kita rasakan. Cukup kita bisikan pada Sang Maha Kuasa di sepertiga malam. Utarakan apa yang ingin kau utarakan untuk mengungkapkan rasa kehilangan yang amat menyiksa perasaanmu.

   Hingga aku pun memaknai sebuah kehilangan itu adalah cara mengikhlaskan yang berakhir pada kesabaran. Aku pun belajar banyak hal dari Penulis Kang Abay dari salah satu bukunya yang berjudul “Cinta Dalam Ikhlas”. Kutipan mengenai makna dari sebuah kehilangan, menurutnya kehilangan yang dirasakan oleh tokoh Athar adalah kehilangan seorang Ayah. Kehilangan itu, ia maknai dalam hidupnya adalah tentang kematian.

 Terkadang mungkin setiap orang bisa saja berbeda dalam memaknai sebuah kehilangan. Namun yang jelas, ketika kita merasa memiliki disitu pula kehilangan pasti akan ada.



Jumat, 01 November 2019

Cerita dari Episode Kehidupan Part II “Love Yourself”


Berada pada titik  terendah dalam  kehidupan menjadi bagian cerita dalam episode kehidupan. Saat itu, kamu berada dalam keadaan dimana harapan tidak sesuai dengan kenyataan yang berujung pada kekecewaan.  Melewati segala proses yang ada dengan menikmatinya adalah cara terbaik untuk kita bangkit dari titik itu, karena pada dasarnya “hidup itu tak mesti diartikan dengan kalimat yang panjang, tak mesti diartikan dengan kalimat singkat, namun semua orang bisa mengartikan hidup mereka dengan cara mereka masing-masing. Terlebih ketika kita berada pada titik itu, kita akan tahu bagaimana caranya untuk mencintai diri sendiri dan berhenti untuk membandingkan kita dengan orang lain. Mengenyampingkan hal-hal yang merugikan pikiran kita dan membuat mindset about “ how to learning love myself.”
Setiap orang berhak untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan, namun haruslah sesuai dengan porsinya, entah itu akan pahit atau manis nantinya. Kita harus berpikir bahwasanya kenyataan itu tidak selalu pahit meskipun pahit itu adalah yang terbaik yang Tuhan berikan untuk kita. Hal itu kembali pada diri kita, mencari sudut pandang yang berbeda untuk memahami bahwa “Kenyataan itu tidak selamaya pahit”.
Ketika kenyataan itu tidak selamanya pahit, maka kamu hanya perlu tahu bahwa perjalananmu masih panjang. Jangan membuat semuanya seolah sempit dan stuck dalam satu masalah, Jangan merasa semuanya sulit untuk dihadapi dan tak bisa diselesaikan. Karena kita tak pernah tahu apa yang akan terjadi dimasa depan. Jadi, berusahalah yang terbaik untuk hari ini dan nanti!


Untuk Diriku dimasa Depan