Jumat, 01 Desember 2023

Deskripsikan Dirimu dalam tiga bulan terakhir!

 Tiga bulan terakhir di tahun 2023, bagaimana rasanya?

Entahlah, segalanya tak bisa untuk diungkapkan. Hanya saja, cukup berdamai dengan diri sendiri.

Di bulan September yang seharusnya ceria, tapi justru awal dari semuanya memang harus ada ketegasan. Masih dengan orang yang sama, orang yang saya kenal di akhir tahun kemarin. Orang yang tiba-tiba datang dengan penuh hangat, dan menghilang begitu saja hingga akhirnya datang kembali dengan penuh teka-teki dan masih dengan sikap sama tanpa ada ketegasan. Di bulan ini, saya pikir akan ada perubahan tentang perkenalan ini. Ternyata justru saat itu membuat saya berpikir ulang dan semakin yakin bahwa ini tidak bisa dilanjutkan karena untuk rasa saling menghargai saja, saya pikir benar-benar nol. Ini tidak ada frekuensi yang sama. Namun ego dan perasaaan masih berperang untuk saling membenarkan satu sama lain.

Satu bulan September yang penuh kebimbangan dan kebingungan, yang membuat saya harus mundur, maju dan stuck di tengah jalan. Hingga pada akhirnya, tiba disuatu titik yang membuat saya sadar untuk lebih tegas dengan diri saya dan perasaan saya. Ketika saya rasa ini akhir yang tepat untuk saya pamit, dan dari akhir satu pesan yang saya kirimkan akhirnya tidak ada balasan. Dan itu sudah menjadi jawaban dari segala jawaban yang selau saya pertanyakan. Dari awal sampai akhir pun, dia tetap menjadi orang yang sama. Jadi benar kata orang, ketika seseorang datang ke hidup kita, bisa jadi dia memang ujian bagi kita berupa pembelajaran atau bisa jadi seseorang itu memang Alloh takdirkan untuk kita. Dan jawabanya, memang seseorang itu hadir hanya untuk memberikan pembelajaran hidup yang sangat berarti bagi saya.

 Di bulan Oktober, hari-hari yang masih dipenuhi dengan kebimbangan dan pertanyaan-pertanyaan dengan jawaban yang masih belum bisa diterima oleh perasaan namun selau ditegaskan oleh logika. “Oh jadi ini udah selesai?” sebuah pertanyaan yang seolah seperti pernyataan untuk diri sendiri. Well, tapi saya bersyukur dengan berjalannya waktu. Alloh pertemukan saya dan Alloh hadirkan teman-teman yang selalu memberikan support yang luar biasa untuk saya keluar dari zona kebimbangan dan ketidaknyamanan perasaan saya. Saya selalu bertanya pada diri saya, “Kenapa?” Kenapa baru saja saya membuka perasaan saya untuk orang baru setelah sekian lama saya sedikit sulit untuk membuka perasaan untuk orang baru, baru kali ini saya bisa. Tapi justru itu pada orang yang salah. Terkadang pertanyaan itu masih muncul dibenak saya ketika dibulan Oktober.

Oktober dengan penuh canda dan tawa, sedih dan duka. Tak lupa perselisihan antara saya dan ibu saya, masih dengan hal yang sama mendebatkan perbedaan pendapat dan pandangan. Mengkhawatirkan saya yang sampai saat ini masih sendiri, tanpa pernah bertanya apakah saya selama ini merasa bahagia atau bagaimana keadaan mental saya saat ini? Terkadang orang tua memang tidak selalu dan akan mengerti dengan perasaan anaknya, bahkan mungkin seorang anak akan lebih nyaman bercerita dengan teman atau mungkin ke keluarga yang bukan keluarga inti. Itulah akhir cerita dibulan Oktober, dengan perselisihan yang sama, dan akhir yang sebenarnya diantara saya dan dia. “Tidak bisa dilanjutkan”. Namun yang membuat saya menyadari bahwa memang ini yang terbaik adalah saya menganggap bahwa saya baru saja bertemu dengan seseorang yang sepertinya belum bisa mempertanggung jawabkan atas apa yang dia ucapkan, dan belum memiliki prinsip begitu pun komitmen dalam hidupnya. Dari situlah saya baru paham, ternyata saya membutuhkan seseorang yang bisa bertanggungjawab atas apa yang ia ucapkan, memiliki prinsip yang tegas dalam hidupnya dan bisa berkomitmen, terutama dengan dirinya sendiri.

            Di bulan November, memulai langkah demi langkah untuk kembali ke awal. Mengobati sedikit luka kecewa. Mulai berpikir untuk tidak terlalu lama untuk berada pada zona sedih dan kecewa, karena pada akhirnya hanya diri sendiri yang tau apa yang sebenarnya yang diinginkan oleh diri kita. Menikmati hari demi hari, menikmati rasa sedih, bahagia dan penerimaan secara bersamaan. Mencari celah untuk tidak memikirkan hal-hal yang merugikan pikiran dan perasaan. Mengakhiri rasa kecewa dan rasa nyaman. Meskipun harus berakhir di akhir tahun yang kupikir akan berakhir indah, namun pada kenyatannya harus kembali pada titik awal yaitu penerimaan dengan ikhlas atas semua yang sudah terjadi dan terlewati.

November rain,  itulah yang terjadi dalam kehidupan saya. Meksipun nyatanya berat, tapi saya percaya bahwa saya bisa melewatinya tanpa akan terpikirkan lagi oleh hal-hal yang membuat saya kecewa dibulan-bulan sebelumnya. Pada akhirnya di satu titik menuju akhir November, saya mulai merasa bahwa dengan penerimaan rasa ikhlas itu tidak berat. Saya bisa dengan santainya menjalai kehidupan saya, melakukan apa yang ingin saya lakukan, membeli apa yang ingin saya beli dan lebih sering menghabiskan waktu sendiri di tempat makan dengan alasan untuk lebih bisa deeptalk sama diri sendiri. Diakhir November, saya hanya ingin mengucapkan pada diri saya “Terimakasih untuk selalu berjuang bersama, selalu belajar dan bertahan untuk tidak sama-sama egois dalam semua keadaan. Meskipun terkadang ego dan logika masih sering bertengkar, tapi diantara mereka selalu ada yang menginginkan terbaik bagi diri saya.” And the last, I must say thank you for you, sudah hadir di waktu yang singkat, meskipun bukan hadir di waktu yang tepat. Terimakasih sudah mau mengenal saya, melihat segala aktifitas saya dari media sosial tanpa sering bertanya tentang saya. Saya harap, kamu bisa melakukannya lebih baik ketika kamu bertemu dengan seseorang yang menurut kamu tepat. Mulailah belajar untuk membuka perasaanmu dan menerima tentang masa lalu yang tak mungkin untuk bisa kamu ulangi. Bahagiamu, kamu yang ciptakan. Terimakasih.

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Untuk Diriku dimasa Depan